Senin, 28 April 2014

Budaya Koteka adalah Pembodohan

Fadzlan sesungguhnya lebih sreg menyebutkan nama Nuu Waar untuk tanah kelahirannya, bukan hanya Papua atau Irian. “Itu nama Irian dahulu, bhs Irian. Nuu berarti sinar, waar menaruh rahasia, ” jelasnya.


Pria yang juga pendiri Pesantren Al-Khairat Rawalumbu Bekasi ini lalu membuka “rahasia” itu.

“Salah satunya mungkin rahasia dibalik anugerah Allah pada Irian untuk sisi dari Indonesia. Muslim Papua-lah yang pertama kali mengumandangkan azan Shubuh. “Ashalaatu khairu min an-naum”’ Ayo bangun! ”

“Bangunlah kebersamaan, ukhuwah Islamiyah. Bila orang Irian tak shalat, tak lagi terdengar takbir pada pagi hari. Walau sebenarnya matahari serta bln. mau mendengar takbir. ”

“Allah juga berfirman dalam Surat An-Nashr : 2, “…dan anda tengok manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong’. Itu berlangsung di Irian, ” katanya.

Dalam sejarahnya, nama itu lalu ditukar oleh Portugis jadi Papua, lalu ditukar oleh Indonesia jadi Irian, saat ini jadi Papua lagi. “Semoga di hari esok jadi Nuu Waar lagi, ” ingin Fadzlan.

Sejatinya, Islam sudah jadi sisi integral dari perubahan orang-orang Papua. Seperti tercatat di buku Islam atau Kristen Agama Orang Irian karya Ali Athwa (wartawan Nada Hidayatullah), Islam malah datang lebih dahulu di banding Kristen. Fadzlan juga yakini hal semacam itu.

“Islam yaitu agama pertama yang masuk Papua. Orang Islamlah yang mengantar Pendeta Otto Gensller ke Irian tanggal 5 Februari th. 1885. Waktu itu, Syaikh Iskandar Syah dari Samudera Pasai telah datang, dampak Raden Fattah dari Kesultanan Demak juga telah ada, jalinan Muslim Irian dengan Kerajaan Ternate serta Tidore di Maluku juga erat. ”

“Menurut data yang saya dapatkan, waktu itu telah ada halaqah-halaqah yang digerakkan beberapa da’i dari era ke-12. Raja bertindak besar dalam menggerakkan dakwah, ” terang pria yang tetap keturunan Raja Pattipi ini.

Menurut Fadzlan, kerajaan-kerajaan Islam waktu itu berdiri di beberapa lokasi. “Ada 12 kerajaan, dibagian selatan ada 9, ada juga di utara, terhitung di lokasi Wamena, namanya Kerajaan Abdussalam Nowak. Satu diantara keturunan Nowak ini yaitu Haji Aipon Asso, tokoh orang-orang Wamena, ” urai Fadzlan yang saat ini tengah lakukan riset perihal histori Islam di Nuu Waar.

Islam lebih dahulu berkiprah di Papua, tetapi saat ini lokasi ini sama dengan Kristen. Respon Anda?

Ini korban opini mass media. Narasi perihal Irian kan tak jauh dari koteka. Kurun waktu yang sama, posisi-posisi birokrasi dikuasai oleh saudara-saudara kami yang Kristen. Merekalah yang pada akhirnya lebih menonjol.

Menurut Anda, mengapa birokrasi dapat dikuasai mereka?

Kekeliruan pemerintah pusat. Dahulu saat berjuang kembalikan Papua ke pangkuan ibu pertiwi, diawali dari basis massa Islam, terlebih di lokasi barat. Jiwa raga Muslim Irian dipertaruhkan. Namun sesudah sukses, Islam tak di besarkan, dakwah tak di kembangkan. Alur info juga tak sempat di terima dengan baik oleh basis-basis Islam. Terlebih basis birokrasi lalu berpindah ke Jayapura, suatu lokasi warisan penjajah Portugis.

Apakah Irian yang sama dengan Kristen itu juga di pengaruhi oleh kesibukan misionaris?

Terang. Seperti Timor Timur. Awalannya banyak yang Muslim, namun lantaran ada sistem pembodohan maka jadi murtad.

Di Irian, ada sistem pembodohan seperti apa?

Misal kecilnya yaitu persoalan baju serta mandi. Kami dilewatkan terus menggunakan koteka serta mandi minyak babi, ini yaitu pembodohan yang di ajarkan oleh beberapa orang yg tidak bertanggungjawab. Kami jadi korban ketidakadilan pembangunan.

Telanjang dikira untuk kebudayaan kami, walau sebenarnya itu yaitu pembunuhan ciri-ciri untuk mahluk, untuk hamba Allah. Bila diantara kami ada yang jadi menteri atau anggota DPR, apakah ke Jakarta gunakan koteka? Tidak dapat, manusia!

Ibu yang meneteki anaknya serta babi sekalian juga dilewatkan. Kebiasaan perang antarsuku dipertahankan. Mengakibatkan, nampak asumsi bahwasanya orang Irian itu jahat. Mereka juga membawa minuman keras untuk bikin generasi muda kami mabuk-mabukan.

Apa yang Anda kerjakan untuk memberantas pembodohan itu?

Pendidikan. Ini yaitu sumber utama untuk merubah manusia. Bila tak diawali dengan pendidikan, ke depan kita bakal hancur, terhitung tatanan tauhid atau aqidahnya.

Orang-orang Irian perlu pemikiran, pergantian, perlu ketenangan hidup. Bukan hanya di jual untuk jadikan ladang hidup. Sampai kini kami dilewatkan miskin supaya mungkin saja proyek.

Generasi Irian mesti dibekali dengan rencana pengetahuan yang benar. Karena, saat telah berilmu serta kembali ke kampung halaman, jiwanya bakal terpanggil untuk melakukan perbaikan orang-orangnya. Serta untuk memperoleh pengetahuan yang benar, generasi muda Muslim Papua tak bisa di lingkungan aslinya, namun mesti pindah.

Kenapa demikian?

Seperti ember kosong, di ambil dari akar lingkungannya yang belum berilmu serta beraqidah dengan cara benar. Saat ember ini penuh, lalu mesti menuang ke negerinya sendiri. Jadi, mesti pulang ke Papua. Dengan demikian, diinginkan mereka serta orang-orangnya bakal tumbuh serta berkembang.

Saat kuliah, apakah anak-anak diarahkan untuk mengambil jurusan spesifik?

Terserah ingin ngambil apa, sesuai sama potensinya. Ingin jadi guru, tentara, polisi, entrepreneur, arsitek, dokter, wartawan, tidak jadi masalah. Asal, profesi untuk da’i tak bisa lupa. Saat masuk di grup orang-orang, dakwah dahulu baru bicara susunan atau birokrasi. Ini yaitu amanah yang kami berikanlah pada semua anak. Bila tak, bagaimana orang dapat tahu bahwasanya Islam dapat tumbuh dari Irian?

Serta butuh dicatat, 10 atau 20 th. lagi merekalah yang akan memastikan hari esok Papua.

Bagaimana caranya memberikan keyakinan keluarganya supaya ikhlas anak-anak dibawa ke tempat yang jauh?

Mereka telah lihat apa yang kerap kami kerjakan di kampung. Kami umum shalat berjamaah Shubuh ditempat mereka, ada kultum, lalu bekerja. Saat zhuhur ke mushalla lagi, habis Ashar ada ta’lim.

Kami perlihatkan photo, majalah, atau apa pun yang dapat tunjukkan perihal anak-anak Irian yang sukses, karena pendidikan. Mereka juga ajukan pertanyaan, “Bagaimana langkahnya sekolah? ”

Kami terangkan, “Di sini gurunya sulit. Bagaimana bila anak Ayah atau Ibu kami bawa? ” Mereka juga sepakat.

Supaya lebih memberikan keyakinan, orangtua atau keluarganya kami bawa ke Jawa. Matanya terbuka. Demikian kembali ke kampung, mereka bercerita pada tetangga. Demikian selanjutnya.

Bagaimana sistem rekrutmennya?

Sebelum saat anak-anak dibawa, kami “tidur” dahulu di kampungnya 2-3 bln., juga dapat hingga 2 th.. Kami bicarakan dari hati ke hati bagaimana bila anak-anak ini dibina. Nyatanya tanggapannya mengagumkan. Terkadang saya dapat bawa 50-60 anak ke Jawa, baik yang telah Muslim atau tetap mualaf.

Saat datang ke Jawa, apakah mereka alami persoalan, lantaran perbedaan kultur umpamanya?

Saat awal di pesantren, memanglah agak sulit. Butuh penyesuaian, dimulai dari rutinitas hingga persoalan makan. Anak-anak ini punya kebiasaan makan sagu atau ubi, maka saat makan nasi jadi sakit perut. Atau, bila makan nasi habis sebakul. Alhamdulillah, lama-lama dapat penyesuaian serta berprestasi. Terdapat banyak kader kami di Pesantren Gontor, umpamanya, yang hafidz Al-Qur`an.

Bagaimana memonitor perubahan anak-anak yang menyebar di beberapa tempat itu?

Tiap-tiap Ramadhan kami kumpulkan di Bekasi. Anak-anak dapat ketemu, ganti pikiran serta pengalaman. Semasing bakal terpacu dengan perubahan rekannya. Kami juga dapat memonitor sejauhmana perubahan anak-anak.

Kantor di Bekasi yang aktif dari th. 1985 ini jadi sejenis markas serta pusat info. Di sinilah jadi tempat ajukan pertanyaan.

Sebelum saat ada markas, saya banyak di rimba. Komunikasi tak lancar hingga banyak persoalan tidak teratasi. Alhamdulillah, saat ini lebih gampang, walau tempat ini (di Bekasi) tetap sewa. Ada lagi pusat-pusat info seperti di Surabaya serta Makassar.

Tak hanya mengerjakan pendidikan, adakah aktivitas lain?

Ada program pemberdayaan ekonomi. Misalnya sagu. Kami kirim mesin pengolah sagu ke Irian hingga produksi dapat meningkat. Bila memakai langkah tradisional, satu pohon saja satu hari tak usai. Namun bila menggunakan mesin, satu hari dapat membuahkan 5 ton tepung. Warnanya juga putih lantaran menggunakan air tanah, bukan hanya air rawa seperti pada mulanya. Karenanya, kami buatkan sumur bor.

Juga usaha ikan tenggiri. Krupuk 1. 000 kantong /hari. Ikan asin, sarang semut, buah merah, sagu, terasi udang, abon ikan, abon kambing, abon rusa, serta semacamnya. Kami juga tengah menggerakkan peternakan kambing, untuk ganti peternakan babi. Alhamdulillah, sebagian product kami telah dapat menembus hipermarket. Beberapa da’i serta anak-anaklah yang jadi tenaga marketing-nya. * (red)

Sumber : Suara Hidayatullah (edited)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar