Rabu, 23 April 2014

Puasa Syawal, Ibadah Penyempurna Ramadhan

Di kala bln. Ramadhan udah selesai, ada suatu harapan yang pasti jadi kemauan tiap tiap hamba yang udah menekuni bln. ramadhan dengan penuh kesungguhan dalam ibadah, yakni memperoleh maghfirah dari Allah -Azza Wajalla-, maka bebas dari semua dosa yang sempat ia jalankan, baik dosa kecil atau dosa besar yakni memperoleh maghfirah dari Allah -Azza Wajalla-, maka bebas dari semua dosa yang sempat ia jalankan, baik dosa kecil atau dosa besar.

Lantaran, seandainya dosa tak juga terampuni, sungguh adalah suatu kerugian yang besar. Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda :

" Sungguh tidak untung seorang yang merasa bln. Ramadhan, lalu ia keluar darinya sebelum saat ia diampuni (dosa-dosanya). "
(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah -Radhiallahu Anhu-)


Sehabis kita masuk bln. Syawal, terhitung diantara amalan sunnah yang direkomendasi oleh Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- pada umatnya yaitu berpuasa 6 hari di bln. itu. Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda :

" Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu menyambungnya dengan enam hari di bln. Syawal, maka dia seperti orang yang berpuasa selama 1 tahun. "
(HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari -Radhiallahu Anhu-)


Dijelaskan dalam sejarah lain penambahan lafazh :

" Allah jadikan satu kebaikan sama juga dengan sepuluh kebaikan, 1bulan sama juga dengan sepuluh bln., serta (berpuasa) enam hari sehabis berbuka yaitu penyempurna 1 tahun. "
(HR. Ibnu Majah, Ad-Darimi, At-Thahawi, serta yang lain. lafazh hadits ini menurut sejarah At-Thahawi. simak kitab Irwa Al-Ghalil, karya Al-Albani : 4, hadits no : 950)

Berkata Ibnu Qudamah Rahimahullah : " berpuasa enam hari di bln. Syawal adalah amalan yang digemari menurut pendapat sebagian besar beberapa ulama. "
(al-mughni : 4/438)



Keutamaan Berpuasa Enam Hari di Bln. Syawal

Dijelaskan Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali Rahimahullah sebagian fungsi berpuasa enam hari di bln. Syawal :

1. Berpuasa enam hari di bln. Syawal menyempurnakan pahala puasa jadi 1 tahun.

2. Berpuasa di bln. Syawal dan serta Sya'ban kedudukannya seperti shalat sunnah rawatib sebelum saat serta setelah shalat fardhu. Maka ia menyempurnakan suatu hal yang kurang yang ada pada amalan yang perlu. Lantaran amalan- amalan yang perlu bakal disempurnakan dengan amalan sunnah pada hari kiamat, serta sebagian besar manusia saat berpuasa perlu, pasti alami kekurangan, maka butuh ada yang menyempurnakannya dari amalan- amalan yang lain.

3. Membiasakan diri berpuasa sehabis Ramadhan adalah isyarat diterimanya amalan puasa Ramadhan, dikarenakan Allah -Azza Wajalla- seandainya terima amalan seseorang hamba, maka Allah -Azza Wajalla- berikan taufik kepadanya untuk jalankan amalan saleh yang selanjutnya, sama seperti disebutkan : " balasan dari perbuatan kebaikan yaitu dia mengamalkan kebaikan selanjutnya ". Maka barangsiapa yang mengamalkan satu kebaikan lalu dia menyertainya dengan kebaikan selanjutnya, itu adalah isyarat diterimanya amalan kebaikan yang di awalnya, sama seperti juga orang yang jalankan suatu kebaikan lalu menyertainya dengan keburukan, itu adalah isyarat ditolaknya amalan kebaikannya serta tak di terima. "

4. Berpuasa Ramadhan mengakibatkan diampuninya dosa- dosa, serta mereka yang berpuasa Ramadhan disempurnakan pahalanya pada waktu hari raya, serta itu adalah hari kemenangan, maka membiasakan berpuasa sehabis hari raya adalah wujud rasa sukur atas kesenangan ini. Ga ada kesenangan yang tambah besar dari ampunan dosa yang Allah tunjukkan pada hamba-Nya.. Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- sempat kerjakan shalat sampai mengakibatkan bengkak ke dua kaki beliau, lalu Beliau di tanya : kenapa Engkau jalankan hal tersebut, meskipun sebenarnya Allah Ta'ala udah mengampuni dosa- dosamu yang terdahulu serta yang akan tiba?, Beliau menjawab : Tidaklah layak saya jadi seseorang hamba yang bersukur? "
(Muttafaq Alaihi dari Mughirah bin Syu'bah radhiallahu anhu, juga datang dari hadits Aisyah Radhiallahu Anha)

5. Amalan- amalan yang ditunaikan seseorang hamba dalam mendekatkan diri pada Rabb-nya di bln. Ramadhan, tidaklah terputus biarpun bln. Ramadhan udah selesai. Maka sepanjang seseorang hamba tetap hidup, maka amalan saleh terus ada. Beberapa manusia terasa puas saat berlalunya bln. Ramadhan, dipicu lantaran ia terasa berat dengan berpuasa, terasa jenuh serta merasakan terlampau lama. Orang yang sekian keadaannya, tak akan kembali berpuasa sehabis Ramadhan dalam waktu yang cepat. Maka orang yang kembali berpuasa sehabis Ramadhan berlalu membuktikan rasa puasnya dia berpuasa, serta dia tak terasa jenuh, berat serta tak terasa terpaksa. Ada seorang berkata pada Bisyr : ada satu para yang mereka jalankan beribadah serta bersungguh- sungguh di bln. Ramadhan. Maka Beliau menjawab : seburuk- jelek para yaitu mereka yg tidak tahu hak Allah -Azza Wajalla- terkecuali di bln. Ramadhan. Seseorang yang saleh yaitu yang ibadah serta bersungguh- sungguh selama th..
(ringkasan dari kitab Lathaif al-ma'arif, Ibnu Rajab Al-Hambali : 393- 400)



BEBERAPA HUKUM SEPUTAR PUASA SYAWAL

Haram Berpuasa di Hari Raya

Pada tanggal satu Syawal, diharamkan buat seseorang muslim untuk berpuasa dipicu lantaran hari itu adalah hari raya, hari makan serta minum. Udah diriwayatkan dari Abu Ubaid Maula Bin Azhar berkata : “Aku saksikan hari raya bersama-sama Umar bin Khattab -Radhiallahu Anhu- lalu Beliau berkata : dua hari ini yaitu hari dimana Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- melarang berpuasa pada keduanya : hari kalian berbuka dari puasa kalian, serta hari yang ke dua di pas kalian makan dari sembelihan kalian. "
(Muttafaq alaihi)

Juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Said Al-Khudri -Radhiallahu Anhu- bahwasanya beliau berkata : Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- melarang berpuasa pada hari raya Idul Fitri serta hari raya kurban. "
Berkata Al-hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-syafi-i Rahimahullah : hadits ini membuktikan diharamkannya berpuasa pada dua hari raya, sama juga apakah itu puasa nazar, kaffarah, sunnah, puasa qadha serta tamattu', serta ini menurut ijma' ulama. "
(Fathul Bari : 4/281)
Maka seandainya anda akan berpuasa syawal, sebaiknya diawali dari tanggal dua Syawal, dan sebagainya.



Apakah Puasa Syawal Wajib Berurutan?

Berpuasa enam hari di bln. Syawal, tak disyaratkan mesti ditunaikan dengan cara berurutan, akan tetapi diijinkan ditunaikan setiap waktu dari hari- hari di bln. Syawal. Tetapi seandainya dia mengerjakannya dengan cara berurutan, maka pasti hal tersebut tambah baik.

Berkata An-Nawawi Rahimahullah : " beberapa ulama berkata : digemari jalankan puasa itu dengan cara berurutan, di permulaan bln. Syawal. Tetapi seandainya mengerjakannya tiada berurutan serta mengakhirkannya, perihal tersebut diijinkan, serta dia udah jalankan sunnah ini, menurut keumuman hadits.
(Al-majmu', syarhul muhadzdzab : 6/427)

Berkata juga Syaikh Bin Baaz Rahimahullah : " diijinkan mengerjakannya dengan cara berurutan serta dengan cara terpisah, dikarenakan Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- menyebutkannya dengan cara mutlak tiada penjelasan berurutan atau pun terpisah. "
(Majmu' Fatawa ibn Baaz : 15/391)



Tak Menspesialisasikan Puasa di Hari Jum'at

Jikalau berpuasa enam hari di bln. Syawal, sebaiknya tak menyendirikan puasa pada hari Jum'at, akan tetapi sebaiknya berpuasa 1 hari di awalnya atau 1 hari sesudahnya. Hal tersebut menurut hadits Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- :
" Jangan sampai salah seseorang kalian berpuasa pada hari Jum'at, terkecuali seandainya ia berpuasa 1 hari di awalnya atau 1 hari sesudahnya. "
(HR. Bukhari dari Abu Hurairah -Radhiallahu Anhu-)


Diriwayatkan dari Juwairiyah Bintul Harits Radhiallahu Anha bahwasanya satu dikala Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- masuk ke tempatnya pada hari Jumat dalam situasi ia berpuasa. Maka Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- ajukan pertanyaan : apakah engkau berpuasa tempo hari? Juwairiyah menjawab : tak. Lalu Beliau ajukan pertanyaan : apakah engkau mau berpuasa besok? Ia menjawab : tak. Maka Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- berkata : " batalkanlah (puasamu) ".
(HR. Bukhari)

Tetapi dikecualikan jikalau seorang berpuasa pada hari adat dia berpuasa, lalu bertepatan pada hari Jum'at, seperti seandainya dia akan berpuasa Asyura, lalu bertepatan dengan hari Jum'at, maka bisa berpuasa di hari Jum'at, biarpun ia tak berpuasa hari sebelum saat serta setelah itu, sama seperti yang diriwayatkan Imam Muslim bahwasanya Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bersabda :

" Janganlah kalian menspesialisasikan malam Jumat dari malam- malam yang lain dengan qiyamul lail dengan cara spesial, serta jangan sampai juga kalian menspesialisasikan hari Jumat dari hari- hari yang lain dengan puasa spesial, terkecuali seandainya salah seseorang kalian umum jalankan puasa itu. "
(HR. Muslim)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah sehabis mengatakan sebagian hadits berkenaan larangan menspesialisasikan puasa pada hari Jum'at :

" serta di ambil kegunaan dari pengecualian dalam hadits itu bolehnya berpuasa seandainya ia berpuasa 1 hari di awalnya atau 1 hari sesudahnya, atau bertepatan waktunya dengan hari- hari yang ia umum berpuasa pada hari itu, seperti seandainya ia berpuasa pada hari- hari putih (tanggal 13, 14, 15 Hijriyah dalam tiap tiap bln., pent), atau seorang terbiasa untuk berpuasa di hari khusus seperti hari Arafah, lalu bertepatan pada hari Jumat. "
(Fathul Bari : 4/275)



Tak Mmengkhususkan Puasa Pada Hari Sabtu

Udah diriwayatkan juga dari Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- bahwasanya beliau bersabda :
" Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, terkecuali suatu hal yang harus atas kalian. "
(HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Al- Hakim, dari Abdullah bin Busr dari saudara perempuannya bernama Ash -Shamma'. Hadits ini diperselisihkan beberapa ulama berkenaan keabsahannya)

Berkata At-Tirmidzi : maknanya yaitu seorang menspesialisasikan hari Sabtu dengan berpuasa, dikarenakan para Yahudi memuliakan hari Sabtu.
(Jami' At-tirmidzi)



Hukum Puasa Syawal Buat Yang Punyai Hutang Puasa Ramadhan

Buat seorang yang punyai hutang puasa di bln. Ramadhan, sebaiknya ia menyempurnakan qadha' puasa Ramadhannya lebih dahulu sebelum saat ia berpuasa sunnah enam hari di bln. Syawal, dikarenakan Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- mengemukakan " barangsiapa yang berpuasa Ramadhan..... ", terlihat bahwasanya yang disebut yaitu menyempurnakan puasa Ramadhan, serta dikuatkan lagi dengan penjelasan bahwasanya satu kebaikan sejumlah sepuluh kebaikan, yang seandainya dihitung seluruh nya bakal capai 1 tahun, hal semacam tersebut cuma bisa saja seandainya seorang berpuasa 1 bulan penuh.

Berkata Al-Haitami Rahimahullah :
"... dikarenakan puasa itu (puasa enam hari di bln. Syawal, pent) bersama-sama dengan puasa Ramadhan, dikarenakan seandainya tak, maka tak ada keutamaan itu, biarpun ia punyai hutang puasa lantaran ada udzur). " (Tuhfatul Muhtaj : 3/457)

Berkata Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah :
" Berpuasa enam hari di bln. Syawal tak akan diraih pahalanya terkecuali jikalau seorang udah menyempurnakan puasa bln. Ramadhan. Maka barangsiapa yang punyai hutang puasa, jangan sampai dia berpuasa enam hari di bln. Syawal terkecuali sehabis meng- qadha puasa Ramadhan, dikarenakan Rasulullah -Shallallahu Alaihi Wasallam- mengemukakan :

" Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan lalu masukkannya dengan puasa enam hari di bln. Syawal.... "
Oleh maka itu, kami mengemukakan pada yang punyai hutang puasa : puasa qadha'- lah lebih dahulu, lalu kemudian berpuasa enam hari di bln. Syawal. "
(Fatawa Ibnu Utsaimin : 20/18)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar